Seri Anbiya’ : Ciri Dakwah Para Nabi, Cinta dan Kelembutan

Khazanahalquran.com – Seluruh nabi dari mulai Adam hingga Muhammad saw memiliki satu ciri yang sama yaitu berdakwah dengan cinta, kelembutan dan kasih sayang.

Sebelumnya pernah kita sebutkan bahwa nabi memiliki cinta yang begitu dalam kepada Umatnya. (Baca:)

Namun kali ini kita akan menyebutkan ayat-ayat tentang bagaimana kesabaran para nabi dan kelembutan mereka dalam berdakwah.

Kenapa para nabi harus memakai metode cinta, kasih sayang dan menebar kebaikan?

Karena bagaimanapun fitrah manusia menyukai hal itu. Pada dasarnya tidak ada manusia yang menyukai kekerasan, penindasan dan kedzaliman. Tapi dengan kelembutan, hati yang membatu pun bisa luluh.

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS.Fussilat:34)

Kemudian pada ayat lain, Allah SWT berfirman kepada Nabi Muhammad saw,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS.Ali Imran:159)

Kita dapat melihat kasih sayang ini pada Nabi Nuh as, yang bersabar selama 950 tahun untuk mengajak umat menuju jalan keselamatan.

Begitupula dengan nabi Musa as. Dihadapan Fir’aun yang kejam itu, Allah memerintahkan beliau untuk berdakwah dengan kata-kata yang lembut.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS.Thaha:44)

Jika kepada Fir’aun saja harus dengan cara yang lembut dan santun, mengapa kita menggunakan cara yang kasar dan keras bahkan kepada saudara muslim sendiri?

Apalagi jika kita melihat sejarah Rasulullah saw. Bagaimana kehidupan beliau selalu dihiasi dengan senyum dan kelembutan.

Suatu ketika seorang Arab Badui menarik surban Rasulullah saw dengan keras hingga membekas merah di leher beliau. Lalu lelaki ini meminta sesuatu kepada Rasul dengan nada yang kasar.

Rasul pun bertanya kepadanya, ” Tidakkah kau melihat apa yang kau perbuat kepaku? Tidakkah engkau takut aku akan membalas perbuatanmu?

“Tidak, aku tidak takut engkau membalas.” jawab lelaki itu.

Kenapa demikian?” tanya Rasulullah.

“Karena engkau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan tapi engkau selalu membalas keburukan dengan kebaikan.”

Inilah para nabi, yang kesantunan dan kelembutannya tidak dapat disaingi oleh seluruh penghuni bumi. Karena mereka adalah utusan Allah yang mengajak manusia menuju Tuhan yang Maha Indah.

Komentar

LEAVE A REPLY